Di ruang senyap, dingin, sedingin salju
Tiga dara itu membuka bicara
"Wi', mpe dimana kita?" tanya Shuzy
"Mpe di dunia mayalah,.." ujar Dwi
Mereka menjelajahi satu persatu dalam alam virtual,
Dwi dan Shuzy berpetualang
Kebun Mawar Sa'di jadi inspirasinya.
Kebun penuh mawar mewangi
Aneh bukan? dihiasi penistaan nafsu,
Mawarpun layu, kebun itu terasa muram.
'Kaki di kepala, kepala di kaki'
penyumbat lubang pernafasan Lia;
"Heh! akhlak kalian dimana!?"
Dunia penuh intrik hewani,
Menenggelamkan akhlak hakiki.
Nampak wajah sensual yang tertunduk malu,
Meratap dosa menjelang ajal.
Dimana kami tadi?
*Kebun Mawar (Gulistan) karya Sheikh Musliuddin Sa'di, filsuf dan sufi dari Persia.
Sabtu, Desember 27, 2008
Tiga Dara, Akhlak Kalian dimana?
Jumat, Desember 19, 2008
Kapitalisasi Libido
Seks
Komoditi kepuasan duniawi
Di mal, toko, jalanan
Berjajaran komoditi seks
Dunia maya berhamburan sumur-sumur bule
Lekukan angka tiga candu kebiadaban,
Angka nol lubang kenistaan,
Angka satu pedang neraka
Jual beli dari Paman Sam
Melemahkan moral bangsa Kami merasa kemerdekaan ternodai
Keremajaan tereduksi liarnya libido
Apa yang bisa dilakukan negara ini?
Hanya untung rugi, devisa jagonya
Mampukah Undang-undang menghentikan Libido?
Manajemen libido,
Kekuatan iman menjagamu dari kehancuran.
Kamis, Desember 18, 2008
Kecantikan Semu
Wanita
Kau makhluk multidimensi
Ketika kau tersenyum,
Ketika kau kibaskan rambutmu,
Ketika kau bicara,
Ketika kau berjalan,
Begitu indah, rata tampil mempesona kaum adam.
Kau pelihara, siram, dan pupuk tubuh itu supaya subur
Kau datangi klinik bedah plastik,
Kau tanyakan paranormal,
Kau pasang susuk,
Semua pun mengejarmu.
Tapi, ingat!
Seorang wanita miskin buruk rupa,
Bijaksana, bermurah hati, berwibawa
Lebih baik darimu, hanya kecantikan semu di balik tubuh itu
Kecantikan ini tidak ada pada yang berdaging
Tidak pernah pergi, tidak pernah datang,
Tidak pula layu Kecantikannya tercermin dari dalam
Rabu, Desember 17, 2008
Sebongkah Daging yang Dihiasi
Lihatlah!
Tubuh yang sedepa ini
Membalut seperangkat tulang, penuh luka,
Tiada pernah tetap,
Tiada abadi.
Lihatlah!
Wujud khayali ini
Walau dalam keadaan gemerlap,
Berhiaskan permata,
Tetap tulang belulang bersarungkan kulit.
Lihatlah!
Kuku yang diwarnai cat,
Wajah dipulas bedak,
Cukup memperdaya si dungu
Yang mencari kepuasan.
Itulah bahaya dari obyek inderawi ini
Hanya sebongkah daging yang dihiasi.