Sabtu, Desember 27, 2008

Tiga Dara, Akhlak Kalian dimana?

Di ruang senyap, dingin, sedingin salju
Tiga dara itu membuka bicara

"Wi', mpe dimana kita?" tanya Shuzy
"Mpe di dunia mayalah,.." ujar Dwi

Mereka menjelajahi satu persatu dalam alam virtual,
Dwi dan Shuzy berpetualang
Kebun Mawar Sa'di jadi inspirasinya.

Kebun penuh mawar mewangi
Aneh bukan? dihiasi penistaan nafsu,
Mawarpun layu, kebun itu terasa muram.

'Kaki di kepala, kepala di kaki'
penyumbat lubang pernafasan Lia;

"Heh! akhlak kalian dimana!?"

Dunia penuh intrik hewani,
Menenggelamkan akhlak hakiki.
Nampak wajah sensual yang tertunduk malu,
Meratap dosa menjelang ajal.
Dimana kami tadi?

*Kebun Mawar (Gulistan) karya Sheikh Musliuddin Sa'di, filsuf dan sufi dari Persia.

Minggu, Desember 21, 2008

Pink Butterfly

Dahulu, muka masam ada bagian warnamu
dan senyum yangterpatah-patah.
Kala kumbang mendekat, surut pula kilau warnamu.

Tiba di mana kau dilahirkan,
Sang surya memberimu kehidupan baru.
Warnamu berkilau bak aura keceriaan dan kebahagiaan.

Sambut senyum merekah pada sang kumbang,
Cahayamu mengajariku bersahaja,
Membangun keintiman bersahabat.
Pink butterfly selalu hidup memukau.

Jumat, Desember 19, 2008

Mencukupkan Diri

Ada sebuah cerita di kota kecil Persia dalam perjamuan para dermawan.
Si miskin kebetulan lewat di depan perjamuan para dermawan itu. Si miskin pun menengadah di depan perjamuan itu:

Seperti seorang bujang di depan pintu kamar mandi perempuan, “Aku menghadap meja (makan), karena sudah begitu lapar.”

jamuan yang berisikan aneka ragam hidangan lezat dan berlemak. sang dermawan hanya menyodorkan sepotong roti;

Sang singa tidak akan memakan sisa-sisa anjing
Sekalipun ia harus mati kelaparan di sarangnya.
Biarlah tubuhmu menderita kelaparan
Janganlah merendah karena mengharap bantuan.

Sebenarnya cerita berupa bait di atas tidak hanya mempunyai maksud bahwa sudah saatnya untuk makan, bukan berbicara; juga mengandung maksud bahwa perbincangan intelektual hanya sebagai latar untuk menuju pemahaman yang sebenarnya. Benarkah kesabaran dan qona'ah dari si Miskin sedang diuji? Bijakkah?? Pembaca yang tahu apa yang saya tidak tahu, adakah maksud lain di balik cerita ini??

Kapitalisasi Libido

Seks
Komoditi kepuasan duniawi
Di mal, toko, jalanan
Berjajaran komoditi seks

Dunia maya berhamburan sumur-sumur bule

Lekukan angka tiga candu kebiadaban,
Angka nol lubang kenistaan,
Angka satu pedang neraka

Jual beli dari Paman Sam
Melemahkan moral bangsa Kami merasa kemerdekaan ternodai
Keremajaan tereduksi liarnya libido


Apa yang bisa dilakukan negara ini?
Hanya untung rugi, devisa jagonya

Mampukah Undang-undang menghentikan Libido?
Manajemen libido,
Kekuatan iman menjagamu dari kehancuran.

Hari yang Mulia

Jumat
Adalah hari yang mulia
Hari penuh ibadah tiada pun hari lain
Berbondonglah kaum adam
Bersujud, bertafakur di baitullah

Dosa pun ditiadakan
Dari Jumat hingga Jumat
Tebarkan Sholawat
Tadahkan kedua tanganmu hingga matahari tertidur

Jumat
Keutamaan yang tidak diperjualbelikan
Bakar noda-noda syirik
Hari yang mulia nan suci

Kamis, Desember 18, 2008

Kecantikan Semu

Wanita

Kau makhluk multidimensi

Ketika kau tersenyum,

Ketika kau kibaskan rambutmu,

Ketika kau bicara,

Ketika kau berjalan,

Begitu indah, rata tampil mempesona kaum adam.


Kau pelihara, siram, dan pupuk tubuh itu supaya subur

Kau datangi klinik bedah plastik,

Kau tanyakan paranormal,

Kau pasang susuk,

Semua pun mengejarmu.


Tapi, ingat!

Seorang wanita miskin buruk rupa,

Bijaksana, bermurah hati, berwibawa

Lebih baik darimu, hanya kecantikan semu di balik tubuh itu

Kecantikan ini tidak ada pada yang berdaging

Tidak pernah pergi, tidak pernah datang,

Tidak pula layu Kecantikannya tercermin dari dalam

Rabu, Desember 17, 2008

Sebongkah Daging yang Dihiasi

Lihatlah!
Tubuh yang sedepa ini
Membalut seperangkat tulang, penuh luka,
Tiada pernah tetap,
Tiada abadi.

Lihatlah!
Wujud khayali ini
Walau dalam keadaan gemerlap,
Berhiaskan permata,
Tetap tulang belulang bersarungkan kulit.

Lihatlah!
Kuku yang diwarnai cat,
Wajah dipulas bedak,
Cukup memperdaya si dungu
Yang mencari kepuasan.

Itulah bahaya dari obyek inderawi ini
Hanya sebongkah daging yang dihiasi.